Senin, 31 Januari 2011

Lemak dan Minyak


Lemak dan minyak merupakan zat makanan yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh manusia. Selain itu leak dan minyak juga merupakan sumber  energi yang lebih efektif dibanding dengan karbohidrat  dan protein.satu gram minyak atau lemak dapat  menghasilkan 9 kkal, sedangkan karbohidrat dan  protein hanya menghasilkan 4 kkal/gram. Minyak atau  lemak, khusussnya minyak nabati, mengandung asam- asam lemak esensial seperti asam linoleat, lenolenat,  dan arakidonat yang dapat mencegah penyempitan  pembuluh darah akibat penumpukan kolestrol. Minyak  dan lemak juga berfungsi sebagai sumber dan pelarut  bagi vitamin-vitamin A, D, E, dan K.
Lemak dan minyak terdapat pada hampr semua  bahan pangan dengan kandungan yang berbeda-beda.  Tetapi lemak dan minyak sering kali ditambahkan dengan sengaja ke bahan makanan dengan berbagai  tujuan. Dalam pengolahan bahan pangan, minyak dan  lemak berfungsi sebagai media penghantar panas,  seperti minyak goring, shortening (mentega putih),  lemak (gajih), mentega, dan margarine.di samping itu,  penambahan lemak juga dimaksudkan juga untuk  menambah kalori serta memperbaiki tekstur dan cita  rasa bahan pangan., seperti pada kembang gula,  penambahan shortening pada pembuatan kue-kue, dan  lain-lain.
Lemak yang ditambahkan kedalam bahan  pangan, atau dijadikan bahan pangan membutuhkan  persyaratan dan sifat-sifat tertentu. Berbagai bahan  pangan seperti daging, ikan, telur, susu, alpokat,  kacang tanah, dan beberapa jenis sayuran  mengandung lemak atau minyak yang biasanya  termakan bersama bahn tersebut. Lemak dan minyak  tersebut dikenal sebagai lemak tersembunyi (invisibke  fat). Sedangkan lemak dan minyak yang telah dimurnikan dikenal sebagai lemak minyak biasa atau lemak kasat mata (visible fat).           
Lemak hewanimengandung banyak sterol yang  disebut kolestrol, sedangkan lemak nabati mengandung  fitosterol dan lebih banyak mengandung asam lemak  tak jenuh sehingga umumnya berbentuk cair. Lemak  hewani ada yang berbentuk padat (lemak) yang  biasanya berasal dari lemak hewan darat seperti  lemak susu, lemak babi, lemak sapi. Lemak hewan laut seperti  minyak ikan paus, minyak ikan cod, minyak ikan herring  berbentuk cair dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu :
a.       Drying oil yang akan yang akan membentuk  lapisan keras bila mongering di udara, misalnya  minyak yang dapat digunakan untuk cat dan  pernis.
b.      Semi drying oil seperti minyak jagung, minyak biji  kapas, dan minyak bunga matahari.
c.       Non drying oil, misalnya minyak kelapa dan  minyak kacang tanah.
Lemak nabati yang berbentuk padat adalah minyak  coklat dan bagian “stearin” dan minyak kelapa sawit.
Pembentukan Lemak secara Alami
Hampir semua bahan banyak mengandung lemak  dan minyak, terutama bahan yang berasal dari hewan.  Lemak dalam jaringan hewan terdapat pada jaringan  adlposa. Dalam tanaman, lemak disintesis dari satu  molekul gliserol dengan tiga molekul asam lemak yang  terbentuk dari kelanjutan oksidasi karbohidrat dalam  proses respirasi. Proses pembentukan lemak dalam  tanaman dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu pembentukan gliserol, pembentukan molekul asam  lemak, kemudian kondensasi asam lemak dengan  gliserol membentuk lemak.
Minyak pangan dalam bahan pangan biasanya  diekstraksi dalam keadaan tidak murni dan bercampur  dengan komponen-komponen lain yang disebut fraksi  lipida. Fraksi lipida terdiri dari minyak/lemak (edible  flat/oil), malam (wax) fosfolipida, sterol, hidrokarbon,  dan pigmen. Dengan cara ekstraksi yang menggunakan  pelarut lemak, seperti potroleum eter, etil eter,  benzene, dan kloroform komponen-komponen fraksi  lipida dapat dipisahkan. Lemak kasar (crude fat)  tersebut disebut fraksi larut eter. Untuk membedakan  komponen-komponen fraksi lipida dipergunakan NaOH.  Minyak/lemak makan, malam, dan fosflipida dapat  disabunkan dengan NaOH. Sedangkan sterol,  hidrokarbon, dan pigmen adalah fraksi yang tidak  tersabunkan.
Lemak dan minyak, lilin, serta ester sterol  digolongkan sebagai lipida tunggal, sedang fosfolopida  dan glokolipida digolongkan sebagai lipida majemuk.
Lemak/minyak makan
Garam  Na-asam lemak + gliserol
Malam + NaOH garam    Na-asam lemak +  alcohol

Fosfolipida garam Na-asam lemak + gliserol+
Na3PO4 + Amina Sterol
Hidrokarbon+ NaOH    (tidak tersabunkan)
Kandungan lemak dalam bahan pangan adalah  lemak kasar dan merupakan kandungan total lipida dalam jumlah yang sebenarnya.

Fraksi Non Minyak
1.Malam dan Fosfolipida
Malam adalah ester  asam lemak dengan alcohol  yang mempunyai berat molekul (BM) tinggi. Asam  lemaknya adalah palmitat, stearat, dan oleat.  Malam hanya terdapat dalam lemak kasar.
Fosfolipida merupakan ester asam lemak dan  gliserol yang mengandung ion fosfat. Minyak dari  golongan biji-bijian banyak mengandung  fosfolipida, misalnya sefalin yang banyak terdapat  pada minyak kacang kedelai.
Lesitin mempunyai bagian yang larut dalam  minyak yaitu bagian yang mengandung polar yang  larut dalam air. Karena itu lesitin dapat digunakan  sebagi emulsifier.

2.Pigmen
Adanya pigmen menyebabkan lemak  berwarna. Warna lemak tergantung dari macam  pigmennya.
Adanya karatenoid menyebabkan warna  kuning kemerahan. Karatenoid sangat larut dalam  minyak dan merupakan hidrokarbon dengan  banyak ikatan tidak jenuh. Bila minyak  dihidrogenasimak akan terjadi hidrogenasi  karatenoid dan warna merah akan berkurang.  Selain itu, perlakuan pemanasan juga akan mengurangi warna pigmen, karena karatenoid  tidak stabil pada suhu tinggi. Pigmen ini mudah  tengik.  Cara menghilangkan pigmen biasanya dilakukan  dengan adsorben seperti arang aktif dan bleaching  earch. Pada minyak kelapa sawit, kandungan  karatenoid jarang dihilangkan sepenuhnya karena  merupakan provitamin A.                                                                                                                       Klorofil terdapat pada dinding sel tanaman  dan memberikan warana kehijauan yang sering terdapat pada minyak dari tumbuhan hijau.  Klorofiil banyak terdapat pada minyak kelapa dan  minyak kacang. Tokoferol yang merupakan sumber vitamin E  sangat aktif terhadap oksidasi, sehingga dapat  dapat digunakan sebagai antioksidan.
Tokoferol  yang teroksidasi  akan menimbulkan warna coklat  pada minyak. Warna coklat juga bias disebabkan  oleh reaksi browing nonenzimatik, yaitu  karbohidrat akan bereaksi dengan protein bila ada  panas.

Komposisi dan Sifat
Lemak dan minyak termasuk dalam  kelompok senyawa yang disebut lipida, yang pada  umumnya mempunyai sifat sama yaitu tidak larut  dalam air. Dalam penanganan dan pengolahan  bahan pangan, perhatian lebih banyak ditujukan  pada suatu bagian dari lipida, yaitu trigliserida  atau neutral fat.  
Pada umumnya untuk pengertian sehari-hari  lemak merupakan bahan padat dalam suhu kamar,  sedang minyak dalam bentuk cair dalam suhu kamar, tetapi keduanya terdiri dari molekul- milekul trigliserida. Lemak merupakan bahan padat pada suhu  kamar, diantaranya disebabkan kandungannya  yang tinggi akan asam lemak jenuh yang secara kimia tidak mengandung ikatan rangkap. Sehingga  mempunyai titik lebur yang lebih tinggi. Contoh  asam lemak jenuh yang terdapat di alam adalah  asam palmitat dan asam stearat. Minyak merupakan bahan cair diantaranya  disebabkan rendahnya kandungan asam lemak  jenuh dan tingginya kandungan asam yang tak  jenuh, yang memiliki satu atau lebih ikatan  rangkap diantara atom-atom karbonnya, sehingga  mempunyai titik lebur yang rendah.
Lemak banyak digunakan dalam pembuatan  roti atau kue dengan tujuan membantu  mengempukkan produk akhir. Lemak yang bersifat  demikian dikenal dengan istilah shortening.  Disebut demikian karena dengan adanya lemak  yang tidak larut dalam air itu, maka terbentuk  massa serabut-serabut gluten dari gandumyang  padat dank eras dapat dihalangi.dengan demikian  serabut-serabut gluten menjadi lebih pendek (shortening), sehingga produk akhirnya (roti atau  kue) menjadi lebih empuk.

Kristal Lemak
Lemak juga dapat memiliki sifat plastis, artinya mudah dibentuk atau dicetak atau dapat diempukkan (cream)., yaitu dilunakkan dengan pencampuran dengan udara. Lemak yang plastis  biasanya mengandung Kristal gliserida yang padat  dan sebagian trigliserida cair. Bentuk dan ukuran  Kristal mempengaruhi sifat lemak pada makanan  roti atau kue-kue.  
Bila suatu lemak didinginkan, hilangnya  panas akan memperlambat gerakan molekul- molekul dalam lemak, sehingga jarak antara  molekul-molekul lebih kecil. Jika jarak antara  molekul-molekul dalam lemak tersebut mencapai  5Å, maka akan timbul gaya tarik-menarik  antarmolekul  yang disebut gaya Van der Walls.  Besar gaya ini hanya bias dihitung pada molekul  yang berantai panjang, seperti asam lemak  dengan BM tinggi. Akibat adanya gaya ini, radikal- radikal asam lemak dalam molekul lemak akan  tersusun berjajar dan saling bertumpuk serta  berikatan membentuk Kristal

Titik Lebur
Dalam bahan makanan terdapat berbagai  jenis trigliserida, dank arena inilah titik lebur menunjukkan variasi yang besar pada sifat tekstur  dan daya pembentuk creamnya.
Titik lebur suatu lemak atau minyak  dipengaruhi oleh sifat asam lemak, yaitu daya  tarik antarasam lemak yang berdekatan dalam  Kristal. Gaya ini ditentukan oleh panjang rantai C,  jumlah ikatan rangkap, dan bentuk cis atau trans  pada asam lemak tak jenuh. Makin panjang rantai  C, titik cairakan semakin tinggi. Titik lebur  menurun dengan bertambahnya jumlah ikatan  rangkap. Hal ini dapat diterangkan sebagai  berikut: Ikatan antarmolekul asam lemak tidak jenuh  kurang kuat, sebab rantai pada ikatan rangkap  (cis) tidak lurus. Makin banyak ikatan rangkap,  ikatan makin lemah, berarti titik cair akan lebih  rendah. Demikian pula dapat dimengerti bahwa  asam lemak jenuh mempunyai titik lebur lebih  tinggi daripada asam lemak tak jenuh. Adanya  bentuk trans pada asam lemak akan  menyebabkan lemak mempunyai titik lebur yang  lebih tinggi daripada bentuk cis


Sifat Lain Pengukuran
indeks refraksi lemak berguna  untuk menguji kemurnian suatu lemak. Indeks  refraksi meningkat dengan makin  panjangnya lemak dan minyak tidak tajam, tetapi merupakan kisaran suhu. Lemak dan minyak juga rantai C, derajat ketidakjenuhan, dan suhu yang  semakin tinggi. Indeks refraksi ini berhubungan  erat dengan bilangan iod suatu lemak dan karena  itu dapat digunakan untuk mengendalikan proses hidrogenasi. Bila suatu lemak dipanaskan, pada suhu  tertentu timbul asap tiois kebiruan. Titik ini disebut  titik asap (smoke point).
Bila pemanasan  diteruskan akan tercapai flash point, yaitu minyak  mulai terbakar (terlihat nyala). Jika minyak sudah  terbakar secara tetap maka dikatakan fire point.  Suhu terjadinya smoke point ini bervariasi  dipengaruhi oleh jumlah asam lemak bebas. Jika  asam lemak bebas banyak, ketiga suhu tersebut  akan turun. Demikian juga bila berat molekul  rendah, ketiga suhu itu rendah. Ketiga sifat ini  penting dalam penentuan mutu lemak yang  digunakan sebagai minyak goring.
Titik rendah ditentukan dengan cara  memanaskan minyak dan ditambahkn pelarut  hingga terlarut sempurna, kemudian didinginkan.  Pada suhu tertentu, campuran muali terpisah dan  akan terjadi kekeruhan. Suhu itu disebut titik  keruh. Pelarut yang biasa digunakan adalah asam  asetat glasial, metil alcohol, dan campuran alcohol 92% dengan amil alcohol 92%. Titik keruh ini  bergantung dari adanya asam lemak bebas.

ASAM LEMAK
Asam-asam lemak yang ditemukan di alam,  biasanya merupakan asam-asam monokarboksilat  dengan rantai yang tidak bercabang dan  mempunayi jumlah atom karbon genap. Asam- asam lemak yang ditemukan di alam dapat dibagi  menjadi dua golongan, yaitu asam lemak jenuh  dan asam lemak tak jenuh. Asam-asam lemak tak  jenuh berbeda dalam jumlah dan posisi ikatan  rangkapnya dan berbeda dengan asam lemak  jenuh dalam bentuk molekul keseluruhannya.  Asam lemak tak jenuh biasanya terdapat dalam  bentuk cis, karena itu molekul akan bengkok pada  ikatan rangkap, walaupun ada juga asam lemak  tak jenuh dalam bentuk trans.
Asam-asam lemak mempunyai jumlah atom C genap dari C2  sampai C30 dan dalam bentuk bebas  atau ester dengan gliserol. Asam lemak jenuh  yang paling banyak ditemukan dalam bahan  pangan adalah asam palmitat, yaitu 15-50% dari  seluruh asam-asam lemak yang ada. Asam stearat  terdapat  dalam konsentrasi tinggi pada lemak biji- bijian tanaman tropis dan dalam lemak cadangan beberapa hewan darat, yaitu 25% dari asam-asam lemak yang ada.
Adanya ikatan rangkap pada asam lemak  tidak jenuh menimbulkan kemungkinan terjadinya  isomer yang terjadi pada posisi ikatan rangkap.  Baik pada molekul yang mempunyai sususnan  konyugasi maupun nonkonyugasi, dapat terjadi  isomer cis atau trans pada posisi ikatan rangkap. Asam lemak dapat digolongkan berdasarkan  berat molekul dan derajat ketidakjenuhan.  Keduanya akan mempengaruhi sifat-sifat  kelarutannya dalam air, kemampuan asam lemak  untuk  menguap, dan kelarutan garam-garamnya  dalam alcohol dan air. Asam lemak dan atom C lebih daridua belas  tidak larut dalam air dingin maupun air panas.  
Asam lemak dari C4, C6, C8, dan C10 dapat  menguap dan asam lemak C12 dan C14 sedikit  menguap. Garam-garam dari asam lemak yang  mempunyai berat molekul dan tak jenuh lebih  mudah larut dalam alcohol daripada garam-garam  dari asam lemak yang mempunyai berat molekul  tinggi dan jenuh.
Penggolongan asam lemak lebihjauh lagi  dapat dilakukan dengan esterifikasi yang  menghasilkan ester metil atau ester etil, kemudiandidikuti dengan fraksinasi. Fraksinasi bias  dilakukan dengan cara kromatografi gas,  kromatografi lapisan tipis, atau menggunakan  spektrofotometer dengan sinar inframerah. Cara  yang terakhir ini dapat digunakna untuk  menentukan jumlah dan identifikasi asam lemak.  Dari penelitian-penelitian dengan sinar inframerah  ini diperoleh bahwa ikatan cis lebih sering terdapat  pada ikatan rangkap dalam asam lemak daripada  ikatan trans. Isomer trans dapat terbentuk dalam  keadaan panas hidrogenasi, atau karena katalis  lain.

JENIS LEMAK DAN MINYAK
A.Minyak Goreng
Minyak goreng berfungsi sebagai pengantar  panas, penambah rasa gurih, dan penambah  nilai kalori bahan pangan. Mutu minyak goring  ditentukan oleh titik asapnya, yaitu suhu  pemanasan minyak sampai terbentuk akrolein  yang tidak diinginkan dan dapat menimbulkan  rasa gatal pada tenggorokan. Hidrasi gliserol  akan membentuk aldehida tidak jenuh atau  akrolein tersebut. Makin tinggi titik asap, makin  baik mutu minyak goring itu. Titik asapa suatu  minyak goring tergantung dari kadar gliserol  bebas. Lemak yang telah digunakan untuk titikasapnya akan turun, karena telah terjadi  hidrolisis molekul lemak. Karena itu untuk  menekan terjadinya hidrolisis, pemanasan  lemak atau minyak sebaiknya dilakukan pada  suhu tidak terlalu tinggi dari seharusnya. Pada  umumnya suhu penggorengan adalah 177- 221C.
Lemak dan minyak yang baik digunakan  untuk minyak goring adalah oleo stearin, oleo  oil, lemak babi (lard), atau lemak nabati yang  dihidrogenasi dengan titik cair 35-40C. Oleo  stearin dan oleo il diperoleh dari lemak sapi  yang diproses dengan cara rendering pada suhu  rendah. Lemak yang dihasilkan dioertahankan  pada suhu 32C, sehingga terbentuk Kristal.  Setelah penyaringan, dapat dipisahkan oleo  stearin yang  berkristal besar dan oleo il yang berkristal  halus.
B.Mentega
Lemak dari suhu dapat dipisahkan dari  komponen lain dengan baik melalui proses  pengocokan atau churning. Dengan cara  tersebut, secar mekanikfiim protein didekelilingi globula lemak retak dan pecah,  sehingga memungkinkan globula lemak  menggumpal dan menyusup ke permukaan.  Cara ini merupakan proses proses pemecahan  emulsi minyak dalam air (o/w)dengan  pengocokan. Mentega sendiri merupakan emulsi air dalam  minyak dengan kira-kira 18% air terdispersi di  dalam 80% lemak dengan sejumlah kecil  protein yang bertindak sebagai zat pengemulsi  (emulsifier). Lemak susu terdiri dari trigliserida-trigliserida  butirodiolein, butiropalmitoolein, oleodipalmitin,  dan sejumlah kecil triolein. Asam lemak butirat  dan koproat dalam keadaan bebas akan  menimbulkan baud an rasa tidak enak.
Mentega dapat dibuat dari lemak susu yang  manis (swet cream) atau yang asam. Mentega  dari lemak yang asam mempunyai cita rasa  yang kuat. Lemak susu dapat dibiarkan menjadi  asam secara spontan atau dapat diasamkan  dengan penambahan pupukan murni bakteri  asam laktat pada lemak susu yang manis yang  telah dipasteurisasikan, sehingga  memungkinkan terjadinya fermentasi.
Lemak susu dinetralakan dengan garam- garam karbonat, kemudian dipasteurisasi.  Sedangkan bakteri yang dinokulasikan biasanya  bakteri Steptococcus citrovorus, S.  paracitrovorus, Lactobacillus lactis, dan Bacillus  viscosus sachari. Selam pematangan 3-4 jam,  bakteri-bakteri akan akan menguraikan laktosa  dalam susu menjadi asam laktat dan timbullah  senyawa diasetil (CH2CO2) yang akan  menimbulakan cita rasa khas. Kristalisasi  mentega ditentukan oleh ukuran globula lemak  dari cream yang digunakan.
 Zat warna, bila diperlukan, ditambahkan  kedalam lemak susu sebelum churning. Zat  pewarna yang sering digunakan adalah karoten,  yaitu zat pewarna alamiah yang merupakan  sumber vitamin A.
C.Margarine
Margarine merupakan pengganti mentega  dengan rupa, bau, konsistensi, rasa, dan nilai  gizi yang hampir sama. Margarine juga  merupakan emulsi air dalam minyak, dengan  persyaratan mengandung tidak kurang 80 %  lemak. Lemak yang digunakan dapat berasal  dari lemak hewani atau lemak nabati. Lemakhewani yang biasa digunakan yaitu lemak babi  (lara) dan lemak sapi oleo oil), sedangkan lemak  nabati yang digunakan adalah minyak kelapa,  minyaka kelapa sawit, minyak kedelai, dan  minyak biji kapas. Karena minyak nabati  umumnya berbentuk cair, maka harus  dihidrogenasi lebih dahulu menjadi lemak  padat, yang berarti margarine harus bersifat  plastis, padat pada suhu ruang, agak keras  pada suhu rendah, dan segera dapat mencair  pada mulut.
Lemak yang akan digunakan dimurnikan  lebih dahulu, kemudian dihidrogenasi sampai  mendapat konsistensi yang diinginkan. Lemak  diaduk, diemulsikan dengan susu skim yang  telah dipasteurisasi, dan diinokulasi dengan  bakteri yang sama seperti pembuatan mentega.  Sesudah inokulasi, dibiarkan 12 – 24 jam  sehingga terbentuk emulsi sempurna, kadang- kadang ditambahkan emulsifier seperti lesitin,  gliserin, atau kuning telur. Bahan lain yang  ditambahkan adalah garam, Na benzoate  sebagai pengawet,dan vitamin A.

D.Shortening atau mentega putih
Shortening adalah lemak padat yang  mempunyai sifat plastis dan kestabilan tertentu,  umumnya berwarna putih sehingga sering  disebut mentega putih. Bahan ini diperoleh dari  hasil pencampuran dua atau lebih lemak, atau  dengan cara hidrogenasi. Mentega putih ini  banyak digunakan dalam bahan pangan  terutama dalam pembuatan cake dan kue yang  dipanggang. Fungsinya adalah untuk  memperbaiki cata rasa, struktur, tekstur,  keempukan dan memperbesar volume roti/kue. Ada tiga macam shortening berdasar kan  cara pembuatannya yaitu compound,  hydrogenated, dan high ratio shortening. Compound shortening adalah shortening  yang dihasilkan dari campuran lemak hewani  yang bertitik cair tinggi, lemak bertitik cair  rendah, dan lemak yang sudah mengalami  hidrogenasi. Dari pencampuran lemak-lemak  tersebut akan diperoleh shortening dengan  konsistensi tertentu, bersifat plastis pada selang  suhu yang lebar, dan tahan lama. Contoh  shortening campuran adalah pencampuran oleo  sterain, lard, dan minyak biji kapas yang telah  mengalami hidrogenasi. Shortening yang dihidrogenasi dibuat dengan  cara mencampurkan dua atau lebih minyak  dengan bilangan iodine dan konsistensi  berbeda-beda. Keuntungan cara ini adalah  konsistensi dapat diatur dengan mengatur  perbandingan jumlah derajat hidrogenasi dari  masing-masing lemak yang dicampur. High ratio shortening atau hydrogenated  shortening yang ditambahkan emulsifier.  Misalnya monogliserida, digliserida, lesitin, dan  kadang-kadang ditambahkan gliserol. Mono-  dan digliserida mengandung gugus karboksil  yang bersifat liofilik dan gugus hidroksil yang  bersifat hidrofilik, karena dapat bertindak  sebagai emulsifier.
Mentega putih yang  mengandung emulsifier ini tidak baik untuk  tujuan menggoreng deep frying, karena pada  suhu tinggi mono- dan digliserida akan terurai  membentuk asap. Pada umumnya sebagian besar mentega  putih dibuat dari minyak nabati seperti minyak  biji kapas, minyak kacang kedelai, minyak  kacang tanah, da lain-lain. Sifat-sifat mentega putih didasarkan atasnilai shortening dan sifat  sifat plastis. Nilai shortening adalah  kemampuan mentega putih untuk melumas dan mengempukkan bahan pangan yang tergantung  juga sifat plastisnya. Sifat plastis tergantung  dari perbandingan jumlah lemak padat dan  lemak cair serta sifat-sifat Kristal lemaknya.

REAKSI OKSIDASI DAN KETENGIKAN
A.Reaksi oksidasi
Kerusakan lemak yang utama adalah timbulnya  baud an rasa tengik yang disebut proses  ketengikan. Hal ini disebabkan oleh otooksidasi  radikal asam lemak tidak jenuh dalam lemak.  Otooksidasi dimulai dengan pembentukan  radika-radikal bebas yang disebabkan oleh yang  dapat mempercepat reaksi seperti cahaya, panas, peroksida lemak atau hidroperoksida,  logam-logam berat seperti hematin,  hemoglobin, mioglobin, klorofil, dan enzim- enzim lipoksidase. Molekul – molekul lemak yang mengandung  radikal asam lemak tidak jenuh mengalami  oksidasi dn menjadi tengik. Bau tengik yang  tidak sedap tersebut disebabkan oleh  pembentukan senyawa – senyawa hasil  pemecahan hidroperoksida.
Menurut teori yang  sampai kini masih dianut orang sebuah atom hidrogen yang letaknya di sebelah atom karbon  yang mempunyai ikatan rangkap dapat  disingkirkan oleh suatu kuantum energi  sehingga membentuk radikal bebas. Kemudian radikal ini dengan membentuk  peroksida aktif yang dapat membentuk  hidroperoksida yang bersifat sangat tidak stabil  dan mudah pecah menjadi senyawa dengan  rantai karbon yang lebih pendek oleh radiasi  energi tinggi , energi panas, katalis logam, atau  enzim. Senyawa – senyawa dengan rantai C  lebih pendek ini adalah asam –asam lemak,  aldehida – aldehida dan keton yang bersifat  volatil dan menimbulkan bau tengik pada
lemak.  Perubahan – perubahan selama oksidasio ini  dapat diikuti dengan spektrofotometer  ultraviolet dengan absorpsi pada 232 nm.

B.Pencegahan ketengikan
Proses ketengikan sangat dipengruhi oleh  adanya prooksidan dan antioksidan. Prooksidan  akan mempercepat terjadinya  oksidasi,sedangkan antioksidan akan  menghambatnya. Pemyimpanan lemak yang  baik adalah dalam tempat tertutup yang gelap  dan dingin. Wadah lebih baik terbuat dari alumunium atau stainless steel ; lemak harus  dihindarkan dari logam besi atau tembaga. Pada  minyak telah diolah menjadi bahan makanan.  
Pola ketengikan akan berbeda. Kandungan gula  yang tinggi mengurangi kecepatan tumbuhnya  ketengikan,misalnya biskuit yang manis akan  lebih tahan daripada yang tidak bergula. Adanya antioksidan dalam lemak akan  mengurangi kecepatan proses oksidasi.  Antioksidan terdapat secara alamiah dalam  lemak nabati, dan kadang – kadang sengaja  ditambahkan. Ada dua macam antioksidan,yaitu  antioksidan primer dan antioksidan sekunder.

C.Antioksidan primer
Antioksidan primer adalah suatu zat yang dapat  menghentikan reaksi berantai pembentukan  radikal yang melepaskan hydrogen. Zat – zat  yang termasuk golongan ini dapat berasal dari  alam dan dapat pula buatan. Antioksidan alam antara lain  tokoferol,lesitin,fosfatida,sesamol,gosipol, dan  asam askorbat. Antioksidan alam yang paling  banyak ditemukan dalam minyak nabati adalah  tokoferol yang memepunyai keaktifan vitamin E  dan terdapat dalam bentuk β, γ, α dan δ tokoferol. Tokoferol ini mempunyai banyak ikatan rangkap yang mudah dioksidasi sehingga  akan melindungi lemak dan oksidasi. bPada minyak yang sudah dimurnikan, kadar  tokoferolnya rendah mislnya minyak jagung,  sebelum dimurnikan kandungan tokoferolnya  110 mg/100g. dalam beberapa lemak tertentu,  tokoferol mengendap, tetapi ternyata lemak itu  tetap tidak mudah tengik karena masih ada  senyawa lain yang dapat mengaktifkan  tokoferol yang mengendap itu.
Antioksidan sintetik ditambahkan ke dalam  lemak atau bahan pangan untuk mencegah  ketengikan. Antioksidan sintetik yang banyak  digunakan sekarang adalah senyawa – senyawa  fenol yang biasanya agak beracun. Karena  penmabahan antioksidan ini harus memenuhi  beberapa syarat, misalnya tidak berbahaya bagi  kesehatan, tidak menimbulkan warna yang  tidak diinginkan, efektif pada konsentrasi  rendah, larut dalam lemak, dan ekonomis. Pada  bahan makanan yang memakai  antioksidan,penggunaannya harus  dicantumkan. Emapat macam antioksidan yang  sering digunakan adal;ah butylated  hydroxyanisole (BHA), butylated hydroxtoluene (BHT), Propygallate (PG), dan NDGA  (Nordihidroquairetic Acid).

D.Antioksidan sekunder
Antioksidan ekunder adalah suatu zat6 yang  dapat digunkanan mencegah kerja prooksidan  sehingga dapat digolongkan sebagai sinergik.  Beberapa asam organic tertentu, biasanya  asam di – atau trikarboksilat, dapat mengikata  logam – lagam. Misalnya satu molekul asam  sitrat akan mengikat prooksidan Fe seperti  sering dilakukan pada minyak kacang kedelai.  EDTA (Etilendalium tetraasetat)  adalah  sequestran logam yang sering digunakan dalam  minyak salad.

E.Uji ketengikan
Uji ketengikan dilakukan untuk menentukan  derajat ketengikan dengan mengukur senyawa  – senyawa hasil oksidasi. Penentuan yang  dilakukan adalah bilangan peroksida , jumlah  karbonal, oksigen aktif , uji asam tiobarbiturat,  uji oven Schall.